DEPTAN DORONG PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK

DEPTAN DORONG PENGGUNAAN PUPUK ORGANIKBerita ini dipostkan pada hari : Monday, July 20, 2009, 22:22 Tasikmalaya, 21/7/2009 (Kominfo-Newsroom) � Departemen Pertanian (Deptan) menyatakan, ada saat ini sekitar 60% atau 3 juta hektare (ha) dari sebesar 5 juta hetare lahan sawah irigasi yang tengah �sakit�, akibat penggunaan pupuk anorganik (kimia) yang berlebihan. �Salah satu cara untuk �mengobati� lahan yang sakit itu, pemeirntah kini mendorong petani menggunakanpupuk organic,� kata .Dirjen Pengolahan Lahan dan Air (PLA)Deptan Hilman Manan saat meresmikan Rumah Kompos di Kelompok Tani Atikan, Kecamatan Sukaresik,Tasikmalaya, Senin (20/7). Lahan �sakit� adalah lahan yang mengalami kekurangan bahan organik atau miskin bahan organik hingga kandungannya di bawah 2%. Idealnya kandungan bahan organik tanah tidak boleh kurang dari 5%. Sementara ciri-ciri lahan yang �sakit� antara lain, tanah menjadi keras dan sulit diolah, sangat masam, kemampuan mengikat air rendah, sehingga ketika musim kemarau mudah kering dan retak, cirri lain adalah respon terhadap pemupukkan rendah, sehingga pemupukkan yang dilakukan petani kurang efisien. Dampak lebih lanjutnya dari �tanah yang sakit� itu tanah menjadi kurang subur. Akibatnya, produktivitas tanaman padi mengalami pelandaian (stagnan). �Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka akan berpengaruh terhadap produksi padi nasional,� ujar Hilman. Pada tahun ini BPS memperkirakan produksi padi nasional mencapai 62,56 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah ini ini meningkat 2,24 juta ton atau naik 3,71% dibandingkan produksi tahun 2008 yang mencapai 60,33 juta ton GKG. Kenaikan produksi terjadi karena ada peningkatan luas panen seluas 341,56 ribu ha. BPS juga memprediksi akan ada peningkatan produktivitas 0,90% atau naik 0,44 kuintal/ha. Mengenai banyaknya lahan pertanian yang �sakit�, menurt Hilman, karena banyak petani yang menggunakan pupuk berlebihan (over dosis) dari rekomendasi pemerintah. Misalnya, petani di sentra padi Jawa sebagian menggunakan pupuk urea hingga 600 kg/ha, padahal rekomendasi dari pemerintah hanya 150-250 kg/ha. Penyebab lainnya adalah kebiasaan petani yang kurang baik. Selama ini sisa hasil panen padi, seperti sampah, seresah, dan jerami yang seharusnya dikembalikan ke dalam tanah sebagai pupuk organik justru dibakar, padahal pembakaran sisa hasil tanaman akan menyebabkan pencemaran CO2 di udara. �Selain itu limbah kotoran ternak yang sebenarnya menyuburkan tanah tidak dimanfaatkan dengan baik,� kata Hilman. Bahkan dia memprediksi, sudah sangat lama, mungkin hampir tiga dekade petani Indonesia melupakan penggunaan sisa tanaman dan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Ini karena petani beranggapan pembuatannya merepotkan dan tidak praktis. Sementara itu KepalaDinas Pertanian Tanaman Kabupaten Tasikmalaya, Hendry Nugroho juga mengakui, penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus telah merusak tanah. Akibatnya telah terjadi perubahan tekstur tanah yang sebelumnya gembur menjadi makin lengket dan susah diolah. �Kebiasaan petani yang lebih menekankan pada pemberian input usaha tani kimia sintetik telah menyebabkan rusaknya sumber daya tanah, air maupun udara. Pada akhirnya mengakibatkan produksi tanaman tidak mampu mencapai potensi yang maksimal,� tuturnya. Untuk mengatasi lahan �sakit�, Hilman menegaskan, harus segera dilakukan rehabilitasi agar fungsinya sebagai media tumbuh tanaman dapat pulih kembali. Salah satunya pemerintah membuat program khusus yakni mengembangkan pupuk organik melalui pembangunan Rumah. Pada tahun ini pemerintah melalui Departemen Pertanian telah merencanakan pembangunan Rumah Kompos sebanyak 110 unit (65 unit berasal dari danaPemerintah Daerah dan 45 dana Pemerintah Pusat). Jumlah tersebut akan ditempatkan di 75 kabupaten/kota di 16 provinsi. Pengembangan Rumah Kompos ini melalui pola pemberdayaan masyarakat. Dalam program ini tiga pihak baik pemerintah pusat, petani dan pemerintah daerah ikut berkontribusi. Pemerintah Pusat melalui Ditjen PLA Departemen Pertanian akan menyediakan anggaran rumah kompos dan pelatihan. Anggaran yang disediakan untuk satu unit rumah kompos sebesar Rp100 juta. Kelompok tani sebagai penerima manfaat akan menyediakan lahan, serta biaya operasional rumah kompos, khususnya untuk bahan bakar dan upah operator. Sedangkan Pemda menyediakan biaya pembinaan dan monitoring. Dilihat dari potensinya, pengembangan pupuk organik sangat besar. Bahan baku yang ada di Indonesia jumlahnya sangat berlimpah. Dengan produksi padi setiap tahunnya sekitar 60 juta ton gabah akan menghasilkan limbah jerami hingga 120 juta ton. Potensi lainnya adalah dari limbah kotoran ternak ruminansia dan unggas, sampah pasar danrumah tangga, hingga sisa tanaman lainnya. �Sebagian besar limbah-limbah itu belum dikelola dengan baik, sehingga sering menjadi beban masalah sosial, serta lingkungan dan memusingkan aparat pemda,� tuturnya. Henry menambahkan, untuk memperbaiki rusaknya lahan pertanian perlu adanya penaambahan bahan organik maupun kompos ke dalam tanah. Sebab, kompos memiliki peranan sangat penting karena dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Karena itu untuk memperbaiki lahan pertanian yang rusak,salah satu yang kini diprogramkan Pemda Tasikmalaya adalah pengembangan pertanian SRI (System of Rice Intensification) organik. �Sejak 2002, Pemda Tasikmalaya secara konsisten mendukung pengembangan SRI Organik. Bahkan menjadi salah satu program unggulan,� ujarnya. Bentuk dukungan Pemda adalah alokasi dana DAU (Dana Alokasi Umum) untuk memfasilitasi penerapan usaha tani organik. Setiap tahunnya tidak kurang seluas 250 ha. Sedangkan dari Pemerintah Pusat pada tahun 2008, Kabupaten Tasikmalaya mendapat bantuan sebanyak 40 paket pengembangan padi SRI organik. Jumlah itu dialokasikan di Kecamatan Mangunreja, Tanjungjaya dan Sukaraja yang berada dalam satu wilayah daerah irigasi Ciramajaya. Luas areal tanam SRI organik di Tasikmalaya terus meningkat. Pada 2003 baru mencapai 44,75 ha yang tersebar di 11 kecamatan, pada 2008 meningkat hingga 5.073,51 ha yang tersebar di 39 kecamatan. �Tahun ini kita rencanakan sasaran areal tanam seluas 8 ribu ha dan sampai Juni sudah terealisasi 2.132,55 ha,� katanya. Namun demikian Henry mengakui, untuk pengembangan SRI organik masih menghadapi kendala bahan baku pembuatan pupuk organik yakni keterbatasan kotoran hewan (kohe). Keterbatasan kotoran hewan itu sebenarnya bisa diatasi melalui pola integrasi usaha tani padi dengan ternak. �Pola ini menjadi alternatif terbaik dalam mendukung kurangnya kotoran hewan di tingkat kelompok,� ujar Henry. (T.Bhr/toeb)Sumber : Depkominfo…

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: