Revolusi Hijau asrama realino

Realino (7) – Revolusi HijauOleh: Gufron | 4 Februari 2010 | 10:57 WIB Seminggu sekali anak-anak penghuni asrama mahasiswa Realino dilatih berdiskusi, memimpin rapat, memberikan presentasi, mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban. Latihan ini disebut Realino Discussion Club atau RDC. RDC wajib diikuti semua penghuni. Sebagai penanggung jawab adalah romo Stolk (almarhum) dan senior-senior Realino.Salah satu topik yang memakan waktu sampai lebih sebulan menjadi bahan diskusi RDC adalah Revolusi Hijau ditanah air, yaitu program intensifikasi dan modernisasi dalam produksi pertanian. Ini terjadi tahun 1964, saya baru di semester 3 Teknik Kimia UGM. Singkatnya adalah para petani dipaksakan untuk memakai benih hibrida, pupuk urea, pestisida dan herbisida buatan pabrik Syngenta, Ciba, Monsanto. Tujuannya adalah untuk pertumbuhan produksi padi, ketahanan pangan dan swasembada pangan. Kelompok yang pro Revolusi Hijau adalah mas-mas penghuni Realino dari Fak Pertanian dan Fak Teknik Kimia. Kelompok yang anti Revolusi Hijau adalah penghuni Realino dari berbagai fakultas, latar belakang mereka umumnya adalah anak petani tulen. Pengetahuan petani tradisionil kita saat itu sudah bagus, mereka paham cara-cara memproduksi pupuk sendiri, membuat pestisida untuk melawan hama dari bahan2 asli setempat. Ini sungguh luar biasa. Baru sekarang saya mengakui mereka itu jempol dan hebat. Petani tradisionil di daerah Pati Juwana (saya berasal dari Pati) dan di Jawa mempunyai ilmu mengendalikan hama secara alami. Mereka paham bagaimana memelihara keseimbangan antara hama dan padi, bahkan teknik menumbuhkan padi/benih sendiri itu ada tata caranya. Sayang seribu sayang , kearifan ini dihancurkan oleh teknologi revolusi hijau. Cara-cara bertani tradisionil pelan-pelan hancur. Kegiatan bertani diarahkan untuk memproses memproduksi komoditas seperti padi, kedelai, jagung agar menghasilkan lebih banyak, dan mengabaikan ekosistim.Selama ribuan tahun, tanah di daerah Pati Juwana di Jawa Bali dan seluruh tanah air, telah ditanami berbagai macam tanaman dengan menggunakan teknologi budidaya tradisionil dengan landasan ekologis, yang berprinsip kepada keanekaragaman varietas, kekhasan ekologi lokal dan keseimbangan ekosistim. Aman dan lestari. Ada keseimbangan antar alam dan manusia, tidak ada kimia buatan pabrik yang “berdampak negatip”.Ibu saya asal Juwana, memiliki sawah yang berpetak-petak, paman-paman saya di Juwana adalah pemilik dan penggarap sawah yang berhasil. Mereka jagoan bagaimana mengatur siklus air, siklus hara, kesuburan tanah, pembenihan, penanaman, pemanenan, melawan hama melawan tikus dll dll yang kesemuanya untuk mempertahankan kemandirian kehidupan petani. Tanpa bantuan dari luar desa. Semua bahan baku ada didesa. Gratis. Setiap musim tanam, sebagian dari benih yang dipanen musim sebelumnya ditanamkan kembali oleh petani. Diladang sudah ada keseimbangan alami antara serangga predator dan hama, kesuburan diperkaya dengan pemasukan pupuk kandang, daun-daunan, sisa panen semuanya didapat dari lingkungan. Sumber daya alam dilestarikan bagi generasi berikut. Ada suatu lingkaran yang lengkap, ada siklus regenerasi yang berkesinambungan. Dan itu sudah terjadi selama ribuan tahun. Waktu masih kecil saya sering ke Juwana pergi ke sawah2 milik mbah Minah yang sedang digarap paman. Varietas padi lokal yang masih ingat antara lain : Rojo lele (top), buyung, ketan kuthuk, gethok, leri, kenongo, rening, mainan, wantean, gropak dll dll wuahh .. lupa, pokoknya banyak lah. Disawah juga ditebar ikan yang akan dipanen beberapa waktu kemudian. Ikannya kecil-kecil tetapi menyenangkan, rasanya saya bangga kalau bisa ‘”nyerok” ikan. Kotor ? Jangan ditanya. Periode diskusi Revolusi Hijau membuat saya sering pulang ke Pati lalu ke Juwana untuk mencari “amunisi” untuk diskusi, mencoba membawa dalih-dalih baru guna melawan kelompok pro Revolusi Hijau. Ramai dan seru sekali ..Telah ribuan tahun petani kita bertani dan mampu menghasilkan tanaman padi dan palawija dengan baik. Petani kita punya budaya memupuk tanaman yang tradisionil, budaya melawan hama serangan wereng, melawan tikus. Oleh pemerintah akan diganti begitu saja dengan benih-benih hasil research, bahan-bahan kimia buatan pabrik. Dalam hati kecil saya melawan dan namun untuk bilang ‘tidak’ saya ntidak berani dan membutuhkan alasan. Terbukti sekarang orang-orang gandrung kembali kepada pertanian organik..Contoh teknologi pedesaan yang umum dipakai waktu itu untuk pestisida di Juwana.Lamtoro. Daun lamtoro dan daun kacang-kacangan yang masih hijau dimasukkan ke karung dicampur dengan kotoran ternak lalu ditutup. Dimasukkan ke ember yang besar dengan perbandingan 1:2 (kalau ga salah), taruh batu agar karung terendam air, Biarkan selama 2-3 hari. Kalau mau dipakai, sampur dengan air semprotkan pupuk ini kesekitar tanaman, sekali sehari pada musim kemarau, tiga hari sekali pada musim hujan. Pupuk dan pestisida yang paling popular.Sirsat atau mindi. Daunnya digunakan sebagai pestisida untuk melawan ulat grayak dan wereng. Caranya daun yang segar ditumbuk halus, campur air, lalu diperes dan disaring. Waktu mau dipakai campur air 1 : 20 dan disemprotkan. Pestisida tradisionil yang ampuh.Paitan. Daun paitan direndam seminggu lalu airnya disiramkan untuk pupuk dan sekaligus pestisida yang ampuh dan bagus.Mahoni. Daunnya direndam diair 2 -3 hari, lalu dicampur air bisa dipakai membasmi serangga pembuat lubang di tanaman padi. Pestisida yang bagus.Bahan baku pestisida waktu itu ada disekitar kita, misal Koro pait, loncak, mahoni, mangkokan, manisah, mengkudu, nanas, nila, pacar, paitan dll. Tatanan dan kearifan-kearifan lokal yang dilakukan petani zaman dulusungguh sangat berguna. Petani sangat paham akan pentingnya memanfaatkan sisa-sisa panen untuk diolah kembali menjadi bahan organik yang dibutuhkan tanah. Tanah yang ada dipelihara agar tidak rusak. (bersambung)Gufron Sumariyon

Tag:

2 Tanggapan to “Revolusi Hijau asrama realino”

  1. selly Says:

    iya memang begitulah sejarah pertanian indonesia yg terkadang setelah difikir ulang menjadi momok yg sulit untuk dikembangkan..
    but, tidak ada kata terlambat untuk bangkit..
    go green no pestiside

    • purcahyopengetahuanpupuk Says:

      ya mungkin dari hal kecil apalagi bagi orang yg berkecimpung dalam bidang pertanian dapat dijadikan fokus utama dalam pembelajaran ,misalnya mahasiswa pertanian diberikan ilmu yg dapat menunjang go green no pestiside,menjadi mata kulaih khusus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: