Racik Nutrisi pakan ikan Sendiri

Racik Nutrisi Sendiri
Oleh trubusid_admindb
Senin, Februari 01, 2010 14:09:21 Klik: 3805 Kirim-kirim Print version
Klik untuk melihat foto lainnya…

Untuk membesarkan 1.200 gurami masing-masing berbobot 200 g menjadi 600 g/ekor selama 4,5 bulan, Edi Santoso membutuhkan 2,5 ton pelet senilai Rp16,5-juta. Namun, sejak 2006 dengan ukuran, masa budidaya, dan bobot panen sama, peternak di Purbalingga, Jawa Tengah, itu hanya mengeluarkan ongkos pakan Rp9,5-juta.

Edi menghemat Rp7,5-juta dari total biaya pakan setelah memberi 100% pakan buatan sendiri. Pakan itu terdiri atas bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar tempat tinggalnya di Kecamatan Kemangkon. Bahan itu antara lain bekatul, ikan rucah, ampas tahu, dan mi atau bihun basah.

Untuk membuat 90 kg pakan Edi meramu bahan-bahan itu. Ia menggiling 20 kg ikan rucah, 30 kg bekatul, 20 kg ampas tahu, dan 30 kg mi basah sisa. Jika tak ada mi bisa diganti 30 kg bihun. Bihun tersebut cukup direndam selama 5 menit sebelum digunakan. Selanjutnya adonan ditaruh di lantai semen dan diberi ragi sebanyak 100 gram dan ditutup terpal. Ragi berfungsi untuk mempercepat proses fermentasi yang berlangsung semalam.

Lepas masa fermentasi, adonan berwarna kecokelatan itu diberi tepung jagung sebanyak 25 kg untuk memperkaya kadar protein. Sementara perekat memanfaatkan kandungan aci dalam mi atau bihun basah. “Setelah itu adonan dicetak dengan mesin pelet. Pelet kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama 1—2 hari sampai kadar airnya sekitar 8%,” tambah Edi yang juga mencoba dengan bahanbahan lain seperti campuran bungkil kelapa dan ampas kelapa.

Yang dilakukan Edi juga dikerjakan oleh Muhammad Azwar di Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Sejak 2007 peternak gurami itu rutin membuat pakan gurami dari bahan-bahan seperti ikan juwi Sardinella sibogga (100 kg), bekatul (100 kg), mi basah (25 kg), dan ampas kedelai (20 kg). Semua bahan dicampur menjadi satu, ditambah ragi sebanyak 2—3 ons dan difermentasi selama semalam. “Pada bahan ditambah juga 250—500 mg vitamin C,” kata Azwar yang menyebut biaya produksi pakan buatan itu sekitar Rp3.500/kg.

Pertumbuhan sama

Bagaimana efek dari pakan itu? Menurut Edi pertumbuhan gurami yang diberi komposisi 100% pakan pabrik dan 100% pakan buatan tak jauh berbeda. Bobot 600 g/ekor bisa dicapai selama 4,5 bulan budidaya dari tebar ukuran 200 g/ekor. Hal sama diamini Azwar yang menggunakan 100% pakan buatan sendiri. “Untuk mencapai bobot 600 g/ekor butuh 4,5 bulan,” katanya.

Bahan-bahan yang digunakan Edi dan Azwar dipilih dengan pertimbangan tertentu. Bekatul, misalnya, dipilih karena kaya karbohidrat dan protein, masing-masing sebesar 51—55 g/100 g dan 14%. Ikan rucah lebih tinggi lagi, kadar proteinnya mencapai 38—40%. Pantas dengan kombinasi bahan-bahan itu kadar protein pakan pabrik sebesar 30,22% bisa dikejar.

Menurut Dr Ir Petrus Hary Tjahja Soedibya, pakan buatan bisa diberikan pada gurami dengan syarat protein mencukupi atau setara nilai protein pakan pabrik. Asupan protein penting karena selain menjadi sumber energi juga beperan pada pertumbuhan ikan. “Kebutuhan optimal protein berkisar 25—35%,” kata ahli nutrisi ikan dari Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Komponen lain seperti lemak dan karbohidrat juga tidak boleh diabaikan karena berperan sebagai sumber energi. Kehadiran vitamin membuat metabolisme tubuh semakin baik dan menjaga kesehatan ikan. Pun mineral seperti natrium dan kalsium harus hadir untuk menjaga keseimbangan osmosis di dalam tubuh ikan.

Hijauan

Di luar pelet, pemberian pakan hijau seperti daun sente tetap diperlukan meski bukan pakan utama. Riset Hary membuktikan gurami akan mengalokasikan energi lebih banyak untuk metabolisme (58,44%) dibanding memakainya untuk tumbuh (7,52%) bila mengkonsumsi sente. Bandingkan dengan pemberikan pakan cacing beku tubifex. Di sini alokasi untuk energi tumbuh mencapai 20,46% dan metabolisme 64,69%. “Sebab itu tak heran bila gurami yang diberi pakan daun, tekstur dagingnya lebih kenyal,” ungkap Hary.

Menurut Carmin Iswahyudi, peternak di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hijauan berupa daun sente dan kangkung darat punya manfaat lain. Sebelum 2008, sekitar 5% dari total populasi ikan gurami yang dipelihara Carmin diserang penyakit mata bisul. Namun setelah rutin diberi hijauan, 2% dari total bobot ikan per hari, gejala itu mereda. Diduga kandungan senyawa flavonoid, polifenol, dan saponin pada daun dan tangkai sente mendongkrak daya tahan ikan terhadap serangan penyakit.

Hasil riset Untung Susilo dan Bambang Hariyadi dari Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman membuktikan kombinasi 50% pelet dan 25% sente, atau hijauan lain memberi hasil optimal pada pertumbuhan gurami. Bobot 600 g/ekor, misalnya, bisa dicapai selama 4—4,5 bulan masa budidaya dari ukuran tebar 200 g/ekor. Sayang sejauh ini kombinasi antara pelet buatan dan hijauan belum diketahui hasilnya. Mungkin saja kombinasi itu dapat lebih baik. (Faiz Yajri)sumber http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=2249

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: